Prawarakepri.com, BATAM – Peristiwa penggeledahan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang melibatkan sejumlah santriwati, turut mengundang keprihatinan H. Suigwan, S.M., M.M., Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Bendahara DPW PKB Kepri.
Kedekatan Suigwan dengan kehidupan pesantren membuat peristiwa tersebut menjadi perhatian tersendiri baginya. Ia mengaku tumbuh di lingkungan pesantren dan memahami bagaimana lembaga pendidikan Islam tersebut menjadi tempat para santri menimba ilmu, membangun karakter, serta mempersiapkan masa depan.
Menurutnya, pesantren bukan sekadar tempat untuk mempelajari ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan, serta nilai-nilai kehidupan.
“Saya tumbuh di lingkungan pesantren. Karena itu, ketika mendengar peristiwa yang melibatkan para santriwati seperti ini, tentu saya merasa prihatin. Pesantren merupakan tempat anak-anak menuntut ilmu, belajar agama, dan membangun masa depan,” ujar Suigwan.
Ia memandang kehidupan pesantren memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat Indonesia. Di dalamnya terdapat para santri yang sedang menempuh pendidikan, para pengasuh yang mendidik dengan penuh pengabdian, serta orang tua yang menitipkan harapan besar terhadap masa depan anak-anak mereka.
Karena itu, setiap peristiwa yang menyangkut kehidupan santri, terlebih yang melibatkan santriwati, tentu menjadi perhatian bersama.
Bagi Suigwan, para santri merupakan bagian dari generasi muda yang sedang menjalani proses pendidikan dan pembentukan karakter. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat belajar, berkembang, dan meraih cita-cita dengan baik.
Ia berharap peristiwa yang terjadi di Sukoharjo tersebut dapat diselesaikan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan dampak berkepanjangan bagi para santri, khususnya mereka yang terlibat dalam kejadian tersebut.
“Harapan saya, anak-anak yang sedang belajar di pesantren tetap mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam menuntut ilmu. Semoga peristiwa ini dapat diselesaikan dengan baik dan tidak meninggalkan dampak yang berkepanjangan bagi para santri,” ungkapnya.
Lebih jauh, Suigwan menilai pesantren memiliki kontribusi besar dalam perjalanan pendidikan bangsa. Selama ini, pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga turut membentuk pribadi yang berakhlak, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial.
Pengalaman tumbuh di lingkungan pesantren menjadi salah satu hal yang membuatnya memiliki kedekatan dengan kehidupan para santri. Ia berharap pesantren di seluruh Indonesia senantiasa menjadi ruang pendidikan yang memberikan rasa aman, ketenangan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.
“Pesantren memiliki peran penting dalam membangun generasi bangsa. Saya berharap anak-anak kita yang belajar di pesantren dapat terus menimba ilmu dengan tenang, tumbuh menjadi generasi yang baik, dan memiliki masa depan yang cerah,” tutup Suigwan.
