JOMBANG, Prawarakepri.com – Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad atau yang akrab disapa Gus Ulib, menyampaikan pernyataan tegas pada hari ini, Rabu (1/4), terkait dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Beliau mendesak adanya pembenahan total pada struktur kepanitiaan demi menjamin lahirnya kepengurusan yang lebih baik dan mampu membawa perubahan positif bagi organisasi. Menurut Gus Ulib, keberhasilan Muktamar sangat bergantung pada integritas penyelenggara yang harus bersih dari berbagai kepentingan luar.
Dalam pernyataannya, Gus Ulib menekankan pentingnya sterilisasi kepanitiaan dari anasir-anasir jahat, joki politik, hingga pengaruh kepentingan tambang yang dinilai tidak memberikan faedah bagi NU. Beliau menyoroti masalah netralitas panitia yang ditunjuk saat ini, terutama bagi mereka yang dianggap justru menawarkan diri demi posisi tertentu. Baginya, format kepanitiaan harus dibenahi secara mendasar sebelum muktamar resmi dilaksanakan agar tidak mengulang pola-pola lama yang merugikan.
“Ya, betul. Kita semua berharap agar muktamar segera dilaksanakan, agar NU segera memiliki kepengurusan NU yang lebih baik dan membawa NU yang lebih baik. Dan tentunya, hasil yang baik, kalau seandainya penyelenggaranya, ya itu harus bersih. Dari anasir-anasir jahat, anasir-anasir joki politik, anasir-anasir tambang, anasir-anasir yang tidak berfaedah, dan lainnya, ya harus bersih,” ujar Gus Ulib dalam petikan pernyataannya.
Secara spesifik, Gus Ulib mengkritik penunjukan sosok ketua panitia yang akrab disapa Ipul. Beliau menyatakan rasa pesimisnya jika nakhoda penyelenggara masih dipegang oleh figur yang sama. Beliau mengibaratkan situasi ini seperti menyerahkan sapi kepada tukang jagal, yang dalam istilah Jawa disebut “wes mesti dibeleh” atau sudah pasti akan disembelih. Gus Ulib mengingatkan agar warga NU tidak kembali menjadi korban untuk kesekian kalinya akibat integritas kepanitiaan yang dipertanyakan.
“Ya pesimislah kita jadinya. Itu sama saja kita menyerahkan sapi kepada tukang jagal, kalau kata orang Jawa ‘wes mesti dibeleh’ artinya sudah pasti disembelih. Jangan kita jadi korban yang ke beberapa kali. Ayolah, orang NU yang sehat-sehat itu, bentuk kepanitian yang lebih waras, lebih baik, untuk menghasilkan NU yang lebih memiliki citra keumatan, sense keumatan. Saya kira itu mohon segera dikoreksi,” pungkasnya. (Red)
